Search

Loading...

Tuesday, June 11, 2013


video tutorial dari markcrilley bagus buat pemula dalam hal menggambar wajah

Pendidikan Bencana Lewat Manga

Print PDF Facebook  Twitter  Email 

Saat gempa besar mengguncang kota Kobe, Jepang, tahun 1995, Yuka Matsumoto masih sekolah di luar kota. Dia tidak mengalami langsung bencana itu, tetapi terpapar trauma saat melihat neneknya patah tulang belakang. Bisnis keluarganya pun bangkrut, sebagaimana dialami kebanyakan warga Kobe yang terpukul sangat parah akibat bencana itu.

Beberapa bulan setelah gempa, ayah Yuka yang tertekan jiwanya menderita stroke hingga nyaris meninggal.

”Bencana alam dapat mengubah jalan hidup seseorang secara total,” kata Yuka, yang ditemui di Jakarta, pekan lalu. Bahkan, dampaknya pun bisa ditanggung anak-anak dalam jangka waktu panjang.

Pengalaman pribadi inilah yang mendorong Yuka, mantan Miss Japan untuk Miss Asia Pasific 2005, berkeliling ke daerah rawan bencana baik di dalam maupun luar Jepang untuk mencari cara agar masyarakat, terutama anak-anak dan perempuan, lebih bersiaga menghadapi bencana. ”Saya tidak ingin orang lain mengalami apa yang dialami keluarga saya,” ujarnya.

Jalan yang dipilih Yuka adalah membuat manga (komik gaya Jepang) yang menampilkan pesan-pesan berisi pendidikan bencana. Yuka yang memiliki latar belakang sebagai jurnalis di NHK International ini kemudian menggandeng Nayu Hanii, komikus Jepang yang bekerja untuk majalah Sho-comi.

Kenapa melalui komik? ”Karena hal itu sangat mudah dipahami, termasuk oleh anak-anak,” tuturnya. Yuka bertugas menyiapkan narasi dan ide cerita. Nayu menuangkan dalam bentuk gambar-gambar khas komik Jepang. Yuka kemudian menyebarkan komiknya ke sejumlah daerah rawan bencana, termasuk ke Aceh, baru-baru ini. ”Saya lakukan ini dengan biaya pribadi. Ini panggilan hidup saya saat ini,” ujarnya.

Bambang Rudyanto, warga Indonesia yang mengajar di Wako University, Jepang, membantu menerjemahkan komik-komik Yuka dan Nayu ke dalam bahasa Indonesia. Menurut dia, pendidikan bencana sangat penting, terutama untuk anak-anak di daerah bencana. Di Jepang, kata Rudyanto, manga berisi pendidikan kebencanaan ini termasuk hal baru.

Kobe dan Aceh

Walau gempa berkali-kali melanda beberapa wilayah Jepang, ujar Yuka, masyarakat Kobe tidak mengira bahwa gempa besar bisa melanda kota mereka. ”Hal inilah yang menjadi alasan kenapa lebih dari 6.000 orang tewas di Kobe saat gempa 1995,” kata Yuka.

Gempa bumi berkekuatan 7,2 skala Richter (SR) itu berpusat di sebelah utara Pulau Awaji, sekitar 20 kilometer dari Kobe. Gempa ini menewaskan 6.433 orang, yang sebagian besar penduduk Kobe. Gempa ini merupakan yang terburuk di Jepang sejak gempa Kanto tahun 1923 yang menewaskan 140.000 orang.

Gempa Kobe menjadi titik balik bagi masyarakat Jepang untuk lebih bersiaga menghadapi gempa. Sejak itu, Pemerintah Jepang menetapkan standar bangunan tahan gempa hingga skala 6 MMI. Semua daerah rawan gempa dan tsunami dipetakan, termasuk Sendai. Para ilmuwan Jepang memperkirakan, gempa akan terjadi di sekitar Sendai dengan kemungkinan 99,9 persen dalam kurun 30 tahun. Kekuatannya diperkirakan 7,5 SR dan akan diikuti tsunami setinggi 6 meter.

Perkiraan ini dibuat berdasarkan rekam jejak gempa dan tsunami di zona itu tahun 1896 dan 1933 yang berkekuatan 7-8 SR. Dengan perkiraan itu, dibuat tanggul setinggi 10 meter di beberapa area di pantai timur Jepang. Masyarakat Sendai mengira, mereka sudah aman.

Gempa benar terjadi, tetapi lebih cepat dan jauh lebih kuat dari perkiraan. Kekuatannya 9,0 SR. Tinggi tsunami yang menerjang lebih dari 10 meter, menewaskan sekitar 20.000 jiwa. ”Jepang mungkin dikenal sebagai negara terbaik dalam teknologi mitigasi bencana, tetapi itu belum cukup,” kata Yuka.

Teknologi tanpa diikuti pendidikan bencana kepada masyarakat tidak pernah memadai. ”Seperti di Kobe sebelum 1995, banyak orang di Sendai tak mengira bahwa tsunami bisa sebesar itu sehingga mereka tidak segera mengungsi. Hal ini yang menyebabkan banyak korban,” lanjutnya.

Yuka melihat hal yang sama terjadi di Indonesia, terutama setelah kunjungannya ke Aceh. Sebelum gempa melanda Aceh pada 26 Desember 2004, kebanyakan warga tidak memiliki pengetahuan bahwa tsunami bisa melanda kota mereka. Bahkan, sebagian masyarakat Aceh waktu itu masih asing dengan istilah tsunami sehingga tidak bergegas menjauh dari laut setelah gempa besar. Ia yakin, jika masyarakat, terutama anak-anak, dari awal diberi pengetahuan yang memadai untuk bersiaga menghadapi bencana, jumlah korban bisa dikurangi.

Rentan terdampak

Upaya Yuka menemukan relevansinya dengan persoalan global saat ini. Anak-anak, selain perempuan, merupakan kelompok paling rentan terdampak saat bencana melanda sehingga United Nations International Strategy for Disaster Reduction mengangkat tema ”Women and Girls—the (in)Visible Force of Resilience” untuk memperingati Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional tahun ini.

Kepala Program Plan Indonesia Nono Sumarsono mengatakan, sekitar 75 persen korban tsunami di Aceh adalah perempuan dan anak-anak. Di Myanmar, 62 korban tewas saat badai Nargis adalah perempuan dan anak-anak. ”Banyaknya perempuan dan anak-anak yang menjadi korban karena kurangnya pengetahuan dan akses terhadap usaha-usaha pengurangan risiko bencana,” ungkap Nono.

Tahun 2007, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 24 tentang Penanggulangan Bencana. Dalam UU disebutkan, pendidikan siaga bencana harus terintegrasi ke dalam program pembangunan, termasuk ke sektor pendidikan. Tahun 2011, Plan Indonesia dan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini juga menerbitkan buku panduan pendidikan siaga bencana untuk anak usia dini.

Namun, upaya ini dinilai belum memadai. Diperlukan terobosan dan komunikasi yang gampang dicerna anak-anak.

Selain pendidikan formal, menurut aktivis perempuan dari Circle Indonesia, Damaira Pakpahan, media seharusnya turut bertanggung jawab mengampu pendidikan bencana ini. Damaira mengkritik arus utama media yang kurang mendidik dan lebih memberitakan bencana saat kejadian dengan mengeksploitasi kesedihan.

Padahal, seperti ditunjukkan Yuka, banyak celah untuk berperan dalam pendidikan bencana, salah satunya melalui manga. ”Saya mungkin tidak bisa mengubah dunia, tetapi, saya juga tidak bisa berdiam diri,” kata Yuka. (Kompas, 18 Oktober 2012/ humasristek)

Friday, January 18, 2013

Super Hero DC



Hampir semua orang mengenal jagoan Super Heroes seperti Batman, Superman, Catwoman, robin and friends. tokoh-tokoh Jagoan Super Heroes yang sudah dikenal di mata international tersebut pada beberapa belakangan ini semakin tinggi popularitasnya. meski terkenal lewat film namun komiknya tidak kalah qualitas bobot cerita maupun sentuhan Art. 

DC comics terkenal lewat karyanya yang pertama SUPERMAN, diterbitkan pada era akhir 1930-an dan bertahan hingga 1950-an. dari beberapa karya yang dihasilkan oleh DC comics, hampir rata-rata menembus pasar international dan dari banyaknya tokoh yang dibuat boleh dikatakan beberapa yang masih bertahan seperti Batman dan Superman.

Captain Jack Sparrow "The Pirate Of Carribean"




Masih teringat dengan Captain Jack Sparrow ? tokoh utama dalam trilogy The Pirates Of Carribean. memiliki karakter yang sangat bertentangan dengan tokoh protagonis pada umumnya. Salah satu sifat yang paling terkenal dari tokoh Jack Sparrow yaitu kepintarannya memanfaatkan situasi demi kepentingan dirinya sendiri yang berujung pada masalah.

Tokoh Captain Jack Sparrow dimainkan oleh actor "Johnny Deep" yang mampu mengangkat karakter Jack Sparrow dalam Trilogy The Pirates Of Carribean. kemungkinan sampai saat ini kita masih mengenal sosok tokoh Captain Jack Sparrow.